Arsip Hidup 2025
Tahun ini sibuk banget kayaknya ya buatku. Many things happened in 2025 sampai bingung mau nulis darimana.
Well... first of all, I turned 25 this year. Udah seperempat abad aja umur gue. Nggak nyangka aja gitu.
Katanya umur 25 itu titik ketika prefrontal cortex, bagian otak kita yang ngurus logika, kontrol diri, dan mikir panjang sebelum bertindak akhirnya “selesai” berkembang.
Aku selalu ngerasa kalau dunia berputar terlalu cepat buatku. Kayak—
—bentar dulu anjir. Satu-satu.
Masalah hidup itu nggak bisa ya datengnya satu-satu, antre aja gitu, nggak usah keroyokan datengnya.
This is my first life too.
Sayangnya kehidupan dimulai sebelum kita siap. Hampir nggak pernah ada aba-aba buat kita mempersiapkan diri dulu sebelum berbagai tragedi terjadi.
My father passed away on the first day of Latsar— it was something I never imagined would happen at my age, 25, or even 24 at the time.
He passed away on September 15th, yang mana 11 hari sebelum ultahku yang ke-25.
Bapak sakit cuma 1 bulan sebelum berpulang, yang bikin aku nggak nyangka kalau kejadiannya bakal secepat itu.
Karena udah nggak stay di rumah lagi, selama bapak sakit itu aku cuma bisa nemenin waktu weekend + 1 hari cuti yang aku ambil.
Setelah bapak berpulang, aku WFH selama seminggu karena berbarengan dengan agenda MOOC Latsar juga. Tapi aku kadang berpikir, kenapa ya aku ambil "libur" lebih banyak setelah bapak nggak ada, kenapa nggak ambil libur lebih banyak saat bapak masih ada.
Again, nggak pernah ada yang tau atau bahkan menyangka bapak bakal pergi secepat ini.
Bapak nggak pernah sakit parah sebelumnya. Cuma karena ada penyakit dari keluarganya, kondisinya jadi cepat memburuk sampai akhirnya seperti itu.
Padahal kalau dibandingin sama bapak-bapak lainnya, pola hidup bapak termasuk sehat. Nggak ngerokok, nggak suka kopi, nggak suka jajan sembarangan, nggak suka begadang juga.
It was weird. Dealing with it.
Kayak suddenly everything went normal gitu, satu-satunya yang berbeda adalah bapak udah nggak ada.
Karena selama bapak sakit, nggak hanya kehidupanku tapi keluargaku jadi kayak jungkir balik.
Meskipun beliau bukan satu-satunya tulang punggung keluarga, tapi setelah bapak sakit rasanya keluargaku jadi unfunctional gitu. Ibuku bahkan baru sadar hal itu karena ia yang paling bergantung ke bapak.
Dan sebagai anak pertama, selama kurun waktu itu aku ngerasa bersalah karena nggak bisa izin nggak masuk kerja terus buat nemenin bapak.
Meskipun udah ada ibu sama adikku yang jaga bapak, kayak ada rasa bersalah sendiri nggak bisa banyak bantu.
Honestly diibandingkan dengan kekhawatiran kondisi bapak yang kenapa-kenapa waktu itu, aku lebih concern ke ibu dan adikku yang capek karena harus bolak-balik rumah sakit.
Nggak tau apakah aku yang terlalu positif thinking tapi, aku somehow yakin kalau bapak bakal sembuh. At least, bisa balik normal lagi ke rumah.
Sampai akhirnya aku sadar bapak masuk ICU hampir 2 minggu atau bahkan lebih saat itu.
Dokter nggak pernah ada yang bilang kalau kondisi bapak kritis. Kondisinya sama— bukan stabil, tapi lebih ke nggak ada perkembangan sejak masuk ICU.
Saat itu udah pembagian jadwal latsar, dan sialnya aku masuk gelombang 1. Yang mana, kalau bapak nggak segera sembuh aku nggak tau harus gimana lagi.
Tanggal 13 September malam itu, I cried. I really cried for the first time sejak bapak sakit. I was desperate. I just want him to go back with us.
I apologized to him, for not being able to stay at his side. For everything I've done.
Nggak sampai 48 jam setelahnya bapak nggak ada.
